Minggu, 07 Januari 2018

Baru Tiga Bulan Berjaya, Bakso Pelangi di Tutup

Baru Tiga Bulan Berjaya, Bakso Pelangi di Tutup
Banjarbaru-Setelah berdiri kurang lebih 3 bulan lamanya, bakso pelangi akhirnya di tutup. Depot yang terletak di jalan A.Yani km 34 seberang hotel permata in Banjarbaru ini resmi di tutup pada tanggal 15 Desember 2017. Alasan penutupan depot Bakso Pelangi ini dikarenakan sang pemilik ingin fokus menjalankan usaha travel umrahnya di Mekkah.
Sekedar mengingat kembali perjalanan karir depot Bakso Pelangi, antusiasme masyarakat sangat bagus terhadap makanan yang satu ini mengingat bakso merupakan salah satu makanan kegemaran  masyarakat Banjar. Apalagi diberi sentuhan warna yang beragam dan unik. Hal ini semakin memberi nilai positif terhadap kuliner yang satu ini. Awal merintis usaha bakso pelangi ini adalah terinspirasi dari saudara sepupu isteri yang punya depot bakso juga yakni bakso beranak dan bakso tulang. Karena ingin membuat sesuatu yang beda maka H. Fazrul berinisiatif membuat bakso pelangi atas saran dari isteri dan anaknya. Pada mulanya hanya ingin interiornya saja yang pelangi, namun karena sudah banyak warung makan yang tampilannya seperti itu maka keluarga ini berinisiatif memberi warna pada pentol baksonya itu sendiri. Namun siapa sangka bakso yang cukup fenomenal di masyarakat ini justru sudah di tutup oleh pemiliknya.

 Melihat jenjang karir dan respon masyarakat yang cukup baik, pastinya sangat sulit untuk melepas satu peluang usaha ini. Menurut H. M. Fazrul Arifin pemilik dari depot bakso pelangi “meski baru berjalan selama tiga bulan tapi saya cukup bangga dengan pencapaian telah di capai oleh depot bakso pelangi ini. Sekali iklan di facebook viewernya mencapai 800 orang dalam lingkup Banjarbaru dan Martapura. Selain itu respon masyarakat juga hangat terkait kemunculan bakso pelangi ini”. Terkait alasan di tutupnya depot bakso pelangi menurutnya sangat sulit menjalankan dua usaha sekaligus serta memanajemen waktunya sendiri. “Saya mau jalanin usaha travel umrah di Mekkah, dan berniat untuk berdomisili di sana. Sementara kalau mau memberikan tanggung jawab kepada isteri juga agak berat, saya kasihan juga kepada isteri kalau mengelola depot sendirian. Karyawan juga baru dua orang, sedang untuk menambah karyawan juga tidak memungkinkan karena penghasilan depot sendiri belum mampu membayar lebih dari dua orang, jadi ya salah satu harus dikorbankan” tutur H. Fazrul ketika diwawancarai pada tanggal 1 januari 2018 kemarin. Penutupan depot bakso pelangi ini bukan tanpa sebab pasalnya telah dipertimbangkan dengan matang. Selain itu melihat banyaknya peralatan depot yang ada dan tempat yang tersedia tidak menutup kemungkinan kedepannya akan membuka bisnis kuliner lagi walaupun belum tentu bakso pelangi.

Rabu, 03 Januari 2018

Wisata Edukasi di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang Ramah Lingkungan






Wisata Edukasi di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang Ramah Lingkungan
Jika mendengar sampah, yang terlintas di pikiran kita adalah baunya yang busuk, plastik dan barang-barang yang berserakan di mana-mana, serta tempat yang kotor. Sampah adalah hal yang tidak diinginkan oleh banyak orang. Terlebih lagi sampah dalam jumlah yang besar seperti di TPA (tempat pembuangan akhir). Namun berbeda halnya dengan TPA “Tabing Rimbah” di daerah Mandastana kab. Barito Kuala ini. TPA yang satu ini sama sekali tidak meresahkan warga sekitar justru kehadirannya dijadikan objek wisata sekaligus edukasi bagi para anak-anak maupun orang dewasa.
Berawal dari inisitif pemerintah yang ingin membangun TPA yang ramah lingkungan. Dalam hal ini pemerintah berharap TPA yang notabenenya sering dihindari dan alokasinya sering ditolak warga sekitar justru mendapat perhatian dan tanggapan baik dari masyarakat. Tempat yang biasanya sering dihindari ini justru sangat ramai dikunjungi. Mengapa banyak elemen masyarakat yang datang berkunjung? Jawabannya sederhana karena TPA Tabing Rimbah di Mandastana ini tidak seperti TPA umum lainnya yang mengganggu masyarakat dengan bau yang tidak sedap dan potret sampah yang menumpuk dimana-mana. TPA ini justru hampir mirip seperti taman bunga dengan banyak ditumbuhi pepohonan dan daur ulang sampah yang menarik dan tentunya bermanfaat. Menurut Ahmad Gajali salah satu duta wisata Kab. Barito Kuala “limbah dari sampah itu sendiri didaur ulang. Sampah organik dijadikan sebagai pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman yang tumbuh di TPA dan bagi masyarakat disekitar. Sampah non organik pun dimanfaatkan untuk mendukung arsitektur di TPA tersebut agar tampak lebih cantik dan menarik. Penggunaan pot, hiasan jembatan, dan interior di TPA Tabing Rimbah menggunakan sampah non organik yang telah di daur ulang. Maka tak heran jika masyarakat tidak merasa terganggu dan justru ikut serta dalam mendukung pengembangan









TPA ini agar lebih baik lagi”.
Keberadaan TPA ini memberikan dampak positif bagi warga sekitarnya yakni mampu membuka lapangan pekerjaan dimana yang mengelola dan mengoperasionalkan TPA Tabing Rimbah itu direkrut dari masyarakat Mandastana. Selain itu banyak para pedagang yang membuka usahanya disekitar TPA tersebut karena banyaknya pengunjung yang datang kesana sehingga peluang usahanya kian besar. Pemerintah setempat berharap tempat seperti ini dapat di contoh oleh daerah sekitarnya terutama dalam hal mengelola sampah agar menjadi wisata edukasi yang ramah lingkungan.